Secangkir Kopi Susu
Wednesday, July 02, 2008
MENGENAL USG 3D DAN 4D

Perkembangan teknologi USG makin maju dengan hadirnya alat yang menampilkan
gambar 3 dan 4 dimensi. Apakah sudah saatnya USG 2D ditinggalkan?



Tentu saja, dibutuhkan keterampilan khusus untuk memahami tampilan gambar dan
informasi yang muncul di monitor mesin USG (Ultrasonografi). Terlebih, karena
alat USG yang umumnya digunakan hanya bisa menampilkan gambar 2 dimensi (2D),
di mana pasien awam tidak bisa ikut "menikmatinya". Dokter pun harus
pandai-pandai menerangkan segala informasi yang tertangkap melalui mesin itu.


Kini, dengan munculnya alat USG yang berkemampuan menampilkan gambar 3 dan 4
dimensi, keterbatasan USG 2D seperti teratasi. "USG 2D hanya dapat melihat bayi
dari salah satu sisi saja, sedangkan dengan teknologi 3D, janin dapat terlihat
utuh dan jelas, seperti laiknya bayi yang sesungguhnya," kata Dr. Judi Januadi
Endjun, SpOG, ahli kebidanan dan kandungan dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta
Pusat.


Bahkan, dengan teknologi USG 4D, orang tua dapat melihat seluruh tubuh bayinya,
berikut gerak-gerik seperti kita menonton film animasi. "Mungkin 10 tahun lagi,
perkembangan teknologi ini bisa memperlihatkan janin sebagaimana sesungguhnya,"
lanjut dokter yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran UPN Veteran ini.


Nah, ibu mana yang tak ingin mengintip kehidupan dalam rahimnya secara lebih
jelas? Namun, untuk itu pasien akan dikenakan biaya yang cukup mahal karena
teknologi yang dipakai pun tidak murah. Kalau begitu, seberapa perlunya janin
dipantau dengan alat ini?

KELEBIHAN USG 3D-4D


"Selama janin dalam keadaan normal, USG 2D sudah cukup. Yang penting alatnya
mempunyai resolusi gambar yang baik," tandas Judi. Ia juga menjelaskan, dengan
alat itu sudah dapat dilihat kelainan janin sampai 80 persen. "Penambahan
teknologi pada USG 3D-4D menjadi pelengkap bila diduga janin dalam keadaan
tidak normal dan perlu dicari kelainan bawaan minornya, seperti bibir sumbing,
kelainan pada jantung dan sebagainya."


Dalam kesempatan berbeda, Dr. Dario Turk, SpOG dari RS Family, Jakarta
menjelaskan secara lebih detail kelebihan USG 3D-4D ini. Menurutnya, kelainan
pada janin bisa terbaca secara lebih akurat karena teknologi ini dikembangkan
untuk meningkatkan ketepatan diagnosa. "Dengan begitu, pada umur kehamilan
11-14 minggu saja, kelainan janin sudah bisa diperiksa dan diidentifikasikan
hingga 85 persennya. Demikian pula dengan down syndrome dan kelainan kromosom
lain, serta kelainan jantung bawaan dini (early fetal cardiology)."


Pada umur kehamilan 18-23 minggu, katanya, dengan alat ini sudah dapat
dideteksi adanya kelainan janin struktural (detail anomaly scan) termasuk
genetic sonogram, kemudian juga kelainan jantung (fetal cardiology).


Pada umur kehamilan 30-34 minggu dapat dideteksi kelainan pertumbuhan janin,
kelainan letak janin, letak plasenta, tali pusat, jumlah air ketuban, profil
biofisik janin, kelainan organ janin yang baru tampak pada usia kehamilan
lanjut (misalnya pada otak, ginjal, dan lainnya), serta kelainan letak tulang
bayi.


Namun, Judi menyarankan agar ibu hamil tidak buru-buru meninggalkan alat USG
2D. Bahkan, ia sangat menekankan perlunya penggunaan alat ini lebih dulu
sebelum pasien memanfaatkan USG 3D atau 4D. "Jangan dibalik," katanya, "kalau
langsung memakai USG berteknologi 3D atau 4D, bisa-bisa struktur di dalam
kandungan yang hanya terlihat dengan USG 2D akan terlewat dan tidak terlihat.
Baru kalau bayi diduga mempunyai kelainan, teknologi 3D dan 4D ini bermanfaat
secara optimal."


Lucunya, kata Judi, di sini telah terjadi salah kaprah. Teknologi secanggih
3D-4D hanya digunakan untuk menanyakan, "Anak saya mirip siapa, Dok?" Sebuah
pertanyaan yang sama sekali tidak penting dan tidak sebanding dengan manfaat
alat itu sendiri. "Padahal wajah bayi di seluruh dunia ini hampir sama,"
komentarnya sambil tertawa.


KALA PEMERIKSAAN DENGAN USG


Saat ini terdapat kesepakatan internasional mengenai pemanfaatan USG bagi
kehamilan. Pertama dilakukan pada trimester awal atau sebelum usia kehamilan 3
bulan untuk menentukan apakah positif atau tidak, di mana lokasi janinnya, dan
berapa umur kehamilan. Dengan alat ini, kesalahan menghitung usia kehamilan
dapat diminimalisir hingga 3-4 hari saja. Sementara, dengan patokan haid
terakhir salah hitung umur kehamilan bisa mencapai 2-3 minggu. Cukup jauh juga.


Berikutnya, USG dilakukan lagi pada kehamilan usia 12-14 minggu untuk
mengetahui apakan janin mengalami kelainan down syndrome (DS) atau tidak.
Dilanjutkan pada minggu ke-18 sampai 20 untuk melihat ada tidaknya kelainan
cacat bawaan mayor. "Lain dari itu, hanya dilakukan bila ada alasan medis yang
memang diperlukan," ujar Judi.


Setelah pemantauan dengan USG dilakukan, dokter yang baik akan memberikan
penjelasan mengenai, ukuran lingkar kepala janin, panjang lengan atas, lingkar
perut, panjang paha, berat badan, umur, dan dinding perut, yang berurutan
secara sistematis.


"Jadi kalau pasien hanya menerima gambar kemudian dokternya memberi catatan
'bayi normal', sebaiknya mintalah penjelasan. Apa yang harus diketahui sampai
ada kesimpulan bayi tersebut normal," saran Judi.


Menurutnya, yang juga harus dipastikan oleh pasien adalah dokter yang melakukan
USG harus mempunyai sertifikasi yang dikeluarkan badan-badan tertentu, misalnya
POSKI (Perkumpulan Ultrasonografi Kedokteran Indonesia) atau badan dunia
semacam WHO.


"Kalau perlu sebelum di-USG, pasien dapat menanyakan apakah dokter yang
memeriksanya mempunyai sertifikat tersebut atau tidak. Yang tak kalah penting
untuk diketahui, di Jakarta ini tidak lebih dari 10 dokter yang mempunyai
sertifikat untuk melakukan USG 3D-4D," ungkap Judi seraya mengatakan bahwa alat
tersebut sudah cukup lama dimiliki RSUP Cipto Mangunkusumo.


Sebagai perbandingan ia menjelaskan, "Di negara-negara maju penggunaan alat ini
diatur pemerintah. Sehingga dalam satu wilayah hanya terdapat satu alat.
Rujukannya pun berjenjang, bila diduga ada kelainan maka pasien baru dirujuk ke
rumah sakit yang mempunyai alat tersebut. Jadi tidak mubazir."


Menurut Judi, pernah ada pasien yang datang dengan membawa gambar yang katanya
adalah hasil USG 3D. Padahal sebenarnya USG yang dilakukan tidak menggunakan
alat tersebut. Jadi penipuan seperti itu bukan tidak mungkin terjadi.


TAK TERJADI EFEK SAMPING


Yang harus dipahami, USG tidak menggunakan radiasi, tapi gelombang suara yang
relatif aman selama dilakukan oleh seorang yang ahli. Namun harus diingat, USG
hanyalah alat bantu yang tidak tertutup kemungkinan memberikan informasi yang
kurang tepat. "Selama bekerja, alat ini harus melewati otot-otot perut, juga
cairan ketuban, jadi gelombang suara yang masuk pasti mengalami interverensi,"
demikian Judi memberi alasan.


Alat USG maksimal digunakan selama 30 menit dan bayi harus dalam keadaan diam.
Bila bergerak, bisa jadi gambarnya hilang dari layar komputer, sehingga harus
diulang lagi. Lebih dari itu, dikhawatirkan terjadi pemanasan yangg akan
merusak sel janin.


"Alat ini menggunakan gelombang suara dan menghasilkan energi, besarnya tidak
boleh lebih dari 100 miliwattjoule/cm persegi. Kalau melebihi akan timbul efek
pemanasan, lama-lama cairan sitoplasma akan menimbulkan gelembung udara yang
disebabkan pemanasan. Karena sel ini tertutup, maka gelembung udara akan saling
mendesak. Akhirnya sel tersebut bisa pecah, dan mati. Coba bayangkan misalnya
yang kena adalah sel di pusat mata, pusat intelektual atau pusat perilaku,
tentu risiko yang ditimbulkan sangat besar," perinci Judi.


Namun hingga kini, belum pernah ada bayi yang terlahir cacat karena efek USG
selama masa kehamilan. Lebih lanjut Judi menambahkan, "Walaupun dimungkinkan
punya efek samping, manfaat yang didapat dari USG ini jauh lebih besar,
sehingga tetap dilakukan untuk pemeriksaan kehamilan."



Merugikan Pasien


Bagaimanapun, akurasi informasi hasil USG sangat bergantung pada pengalaman,
pengetahuan dan etik dokter yang menanganinya. Bukan tidak mungkin informasi
yang diberikan kepada pasien ternyata salah. "Yang paling sering terjadi adalah
salah melihat letak plasenta, kemudian dilakukan operasi sesar pada saat
persalinan. Padahal sesungguhnya tidak ada yang salah dengan letak plasenta,
hanya pada waktu USG, gambar itu dilihat dari atas atau dari bawah," kata Judi.


Lalu apa yang bisa dilakukan pasien bila menemui keadaan yang demikian?
Mintalah second opinion. Kalau perlu dari 3-4 dokter yang berbeda bila dirasa
ada yang kurang beres," sarannya. Kesalahan seperti ini bisa diminimalisir bila
USG dilakukan di sebuah institusi pendidikan, seperti RSCM, "Walaupun tidak
berarti bahwa di sana akan selalu tepat, tanpa ada kesalahan sama sekali, ya."


Di beberapa negara tertentu ada yang disebut "Salon Photo USG", dimana pasien
dapat mengetahui jenis kelamin janin dan mendapatkan fotonya. Namun di situ
yang bersangkutaan diminta menandatangani surat perjanjian, bahwa dokter tidak
melakukan pemeriksaan diagnostik USG terhadap janinnya. Di Indonesia, bisnis
USG yang ada mungkin tidak semencolok ini, tapi dibungkus dalam "kemasan",
dimana alat itu ditaruh di rumah sakit tapi pemeriksaan tidak dilakukan oleh
dokter yang kompeten.


Tips Untuk Melakukan USG

Ada beberapa tips yang disarankan Judi sehubungan dengan USG:
1. USG minimal dilakukan 2 kali selama masa kehamilan
2. Lakukan pemeriksaan USG pada dokter yang kompeten
3. Keuntungan lain dengan USG 3D-4D gambar dapat direkam dalam bentuk CD-ROM
dimana animasi disimpan dalam format jpg dan bisa dilihat di komputer, tidak
hanya dicetak seperti hasil USG 2D selama ini.
4. USG 3D-4D ini paling ideal bila dilakukan pada janin yang berumur 24-28
minggu, dimana air ketuban masih cukup sehingga muka bayi dapat terlihat.
5. Pada trimester pertama dan USG dilakukan tidak dengan USG transvaginal,
dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih kira-kira satu jam sebelum
pemeriksaan kemudian minum 2-3 gelas, jadi diperlukan kandung kemih cukup
penuh. Beda dengan USG transvaginal, kandung kemih harus dalam keadaan kosong.
6. USG aman selama dilakukan oleh ahli yang kompeten.



Sumber : Marfuah Panji Astuti
posted by Mbak Wiek @ 7:50 PM  
1 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Dalam hati yang damai, Semuanya serba mengalir
About Me

Name: Mbak Wiek
Home: Depok, Jawa Barat, Indonesia
About Me: 'ayu Cinta Setiawan" always love u my angel"
See my complete profile
Previous Post
Archives
Powered by

Blogger Templates

BLOGGER